WARTAPOLRI.COM,JAKARTA– Indonesia terus memperkuat diplomasi peternakan untuk membuka pasar, meningkatkan produksi, serta mempercepat pemanfaatan teknologi dan sumber daya genetik. Langkah ini dilakukan dengan membangun kerja sama strategis bersama negara mitra, salah satunya Chile.
Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, dengan Wakil Menteri Pertanian Chile, Francesco Venezian, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Pertemuan menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperkenalkan perkembangan peternakan nasional sekaligus menjajaki bidang kerja sama yang dapat memberikan manfaat nyata.
Agung mengatakan Indonesia dan Chile memiliki kekuatan yang dapat saling melengkapi. Karena itu, kerja sama perlu diarahkan pada bidang yang konkret dan memberikan nilai tambah bagi kedua negara.
“Indonesia dan Chile perlu belajar bersama. Kita memiliki banyak hal yang bisa dibagikan, sekaligus banyak hal yang bisa dipelajari dari Chile,” ujar Agung.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menunjukkan perkembangan positif subsektor peternakan, khususnya produksi daging ayam dan telur.
Agung mengatakan Indonesia saat ini telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk kedua komoditas tersebut. Bahkan, produksi nasional telah menghasilkan surplus dan memenuhi kebutuhan sejumlah negara.
“Untuk subsektor peternakan, Indonesia saat ini sudah mampu mencukupi kebutuhan daging ayam dan telur. Kita bahkan memiliki surplus dan telah memenuhi kebutuhan beberapa negara. Karena itu, kita berharap Chile juga dapat melihat peluang kerja sama untuk kedua komoditas tersebut,” kata Agung.
Capaian tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk terus memperluas akses pasar sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan dan investasi di sektor peternakan.
Di sisi lain, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi susu nasional. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah penguatan populasi dan mutu genetik sapi perah.
Karena itu, Indonesia menjajaki kerja sama dengan Chile dalam pengadaan sapi perah, semen beku (sperma beku), dan embrio, sekaligus mempelajari pengalaman Chile dalam pengembangan produksi susu.
“Kami mengirimkan tim Indonesia ke Chile untuk melihat berbagai kemungkinan kerja sama. Tidak hanya produk susu dan daging babi, tetapi juga kemungkinan pengadaan sapi perah, semen, dan embrio. Kami juga ingin belajar dari pengalaman Chile dalam mengembangkan produksi susu,” ujar Agung.
Kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui pertukaran teknologi dan keahlian, termasuk inseminasi buatan dan transfer embrio. Bagi Indonesia, penguatan teknologi reproduksi menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat peningkatan mutu genetik dan produktivitas ternak.
Selain produksi dan sumber daya genetik, Indonesia juga melihat pentingnya penguatan sistem kesehatan hewan dan sanitari sebagai fondasi perdagangan produk peternakan.
Venezian mengatakan sistem sanitari menjadi salah satu kekuatan Chile dalam menjaga kesehatan hewan, keamanan pangan, serta daya saing produk pertanian dan peternakan di pasar internasional.
“Chile memiliki sistem sanitari yang kuat dan termasuk negara dengan standar sanitari yang tinggi di Amerika Selatan. Kami terus bekerja untuk mempertahankan dan meningkatkan status tersebut,” ujar Venezian.
Pengalaman tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat pertukaran pengetahuan di bidang kesehatan hewan dan sistem sanitari yang mendukung perdagangan produk peternakan.
Chile juga membuka ruang untuk mempelajari pengalaman Indonesia dan memperkuat keterlibatan sektor swasta dalam mengembangkan hubungan perdagangan kedua negara.
“Kami ingin berbagi pengalaman, belajar dari Indonesia, dan membangun pemahaman yang lebih baik antara kedua negara. Kami berharap hubungan ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi kedua pihak,” kata Venezian.
Diplomasi pertanian Indonesia dengan Chile juga mencakup komoditas pangan. Salah satunya adalah beras, seiring meningkatnya kapasitas produksi pangan nasional.
Kerja sama Indonesia dan Chile juga mencakup komoditas pangan, termasuk peluang pemenuhan kebutuhan beras.
Kepala Biro Kerja Sama Pertanian Kementan, Ade Candradijaya, mengatakan Indonesia memiliki ketersediaan beras yang cukup untuk membuka peluang kerja sama dengan negara lain.
“Stok beras kita cukup besar. Baru-baru ini kita memenuhi kebutuhan Malaysia dan sedang menjajaki kerja sama dengan negara lain. Kalau Chile memiliki kebutuhan tertentu, silakan sampaikan spesifikasi beras yang dibutuhkan masyarakat Chile agar Indonesia dapat menyesuaikan pasokannya,” ujar Ade.
Agung menegaskan kerja sama Indonesia dan Chile harus dibangun berdasarkan kekuatan masing-masing negara dan diarahkan pada hasil yang nyata.
“Kita ingin tumbuh bersama. Chile punya kekuatan di bidang pertanian, Indonesia juga punya komoditas dan pengalaman yang bisa dibagikan. Yang penting, kita saling belajar dan mencari bidang yang bisa dikembangkan bersama,” kata Agung.
Kementan menargetkan kerja sama Indonesia–Chile tidak berhenti pada diplomasi antarpemerintah, tetapi menghasilkan tindak lanjut konkret berupa perluasan pasar, penguatan produksi nasional, transfer teknologi, serta peningkatan daya saing petani, peternak, dan pelaku usaha.
( RED )


